Selasa, 10 Oktober 2017

Kisah Nabi Ayyub a.s.

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                         
A.        LATAR BELAKANG
Nabi Ayyub a.s. adalah seorang nabi yang sangat sabar, bahkan yang paling penting diteladani dari kisah Nabi Ayyub a.s. adalah kesabaran dan ketakwaannya. Banyak ujian yang datang kepadanya bertubi-tubi, tetapi tidak menggoyahkan keimanannya kepada Allah SWT. Akan tetapi menambah rasa kecintaannya kepada Allah SWT.

B.        RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana kisah Nabi Ayyub a.s. dalam Al-Qur’an?
2.      Apa hikmah yang dapat di ambil dari kisah Nabi Ayyub a.s.?

C.        TUJUAN MAKALAH
1.      Untuk mengetahui kisah Nabi Ayyub a.s. dalam Al-Qur’an.
2.      Untuk mengetahui hikmah yang dapat di ambil dari kisah Nabi Ayyub a.s.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Nabi Ayyub a.s.
Nabi Ayyub a.s. adalah anak dari  Nabi Ibrahim a.s. Beliau adalah seorang Nabi dan Rasul Allah SWT. Menurut Ibnu Ishaq, Ayyub merupakan salah seorang dari bangsa Romawi. Beliau adalah Ayyub ibn Maush ibn Razih ibn Aish ibn Ishaq ibn Ibrahim al-Khalil. Ada pula yang berpendapat bahwa beliau adalah Ayyub ibn Maush ibn Ra’wail ibn Aish ibn Ishaq ibn Ibrahim. Pendapat lainnya menyatakan bahwa garis nasabnya tidak seperti itu. Ibnu Asakir menceritakan bahwa ibu Ayyub adalah putri Nabi Luth a.s. Ada pula yang berpendapat bahwa ayahnya adalah seorang yang beriman kepada Nabi Ibrahim.
Nabi Ayyub a.s. adalah seorang Nabi yang kaya raya, mempunyai banyak binatang ternak seperti sapi, kambing, kuda, keledai dan unta. Beliau mempunyai banyak anak, laki-laki dan perempuan. Nabi Ayyub a.s. adalah seorang yang selalu berbuat baik kepada kaum fakir-miskin, yatim-piatu, dan setiap orang yang membutuhkan bantuan. Beliau juga amat memuliakan tamunya. Kekayaan dan keturunan yang banyak itu tidak membuatnya sombong, tetapi justru menambah ketakwaannya kepada Allah SWT.[1]
Adapun pendapat yang lebih populer adalah Nabi Ayyub a.s. termasuk anak keturunan Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa’ (4) : 163
163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Ada yang berpendapat bahwa istri Ayyub bernama Rahmah binti Afratsim. Ada pula yang berpendapat bahwa istrinya bernama Liya binti Yusuf binti Ya’qub. Pendapat inilah yang paling populer dan karena itulah kami mengemukakannya disini.
B.     Israiliyyat kisah Ayyub a.s.
Termasuk dari kisah yang ditambah-tambahi oleh orang-orang yang suka menambah-nambahi, dimanfaatkan oleh para pendongeng, dan di dalamnya mereka melepaskan pengikat khayalan mereka adalah kisah Nabi Ayyub a.s. Tentang kisah ini, mereka meriwayatkan hal-hal buruk yang Allah SWT menjaga para Nabi-Nya dari hal-hal tersebut, dan menggambarkan Daud dengan gambaran yang tidak diridhoi oleh Allah SWT bagi seorang pun di antara Rasul-rasul-Nya. Sebagian mufassir menyebutkan berbagai riwayat saat menafsirkan firman Allah SWT dalam QS. Sad (38) : 41-44
41. dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".
42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu, Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".
43. dan Kami anugerahi Dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.
44. dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya).
As-Suyuti dalam Ad-Dur al-Mantsur dan yang lainnya meriwayatkan dari Qatadah r.a., tentang firman Allah SWT. “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan". Qatadah berkata, “Yaitu kehilangan keluarga dan harta, serta penyakit yang menimpa tubuhnya. Dia ditimpa musibah selama tujuh tahun beberapa bulan. Dia dilemparkan ke tempat sampah Bani Israil, dan bermacam-macam binatang berkeliaran di atas tubuhnya. Lalau Allah SWT membebaskan Ayyub a.s. dari musibah tersebut, dan memberinya pahala yang lebih agung dan lebih baik.”
As-Suyuti berkata : Ahmad - dalam az zuhd - Ibn Abu Hatim, dan Ibn Asakir meriwayatkan dari Ibn Abbas r.a., dia berkata, Syaitan naik ke langit dan berkata, “Wahai Tuhan berikanlah kepadaku kekuasaan atas Ayyub a.s.”
Allah SWT berkata, “Aku telah memberikan kepadamu kekuasaan atas harta dan anak-anaknya. Tapi aku tidak memberikan kekuasaan atas tubuhnya kepadamu.”
Maka syaitan turun dan mengumpulkan bala tentaranya seraya berkata, “Aku telah diberi kekuasaan atas Ayyub a.s., maka perlihatkan kekuatan kalian kepadaku!”
Lalu syaitan mengirimkan sekelompok tentaranya ke perkebunan Ayyub a.s., sekelompok yang lain ke keluarganya dan sekelompok yang lain ke peternakan sapinya, dan sekelompok yang lainnya ke peternakan dombanya. Dia berkata, “Sesungguhnya dia tidak berlindung dari kalian kecuali dengan yang perbuatan ma’ruf.”
Maka mereka mendatangkan musibah yang berturut-turut kepada Ayyub a.s., hingga penjaga kebun datang dan berkata, “Wahai Ayyub a.s. tidakkah engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia mengirimkan musuh ke perkebunanmu dan melenyapkannya.”
Kemudian penjaga ternak unta datang dan berkata,  “Wahai Ayyub a.s. tidakkah engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia mengirimkan musuh ke peternakan untamu dan melenyapkannya.”
Kemudian penjaga ternak sapi datang dan berkata, “Wahai Ayyub a.s. tidakkah engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia mengirimkan musuh ke peternakan sapimu dan melenyapkannya.”
Lalu Ayyub a.s. menyendiri bersama anak-anaknya. Mereka berkumpul di rumah yang paling besar. Ketika mereka sedang makan dan minum, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, hingga mencabut pondasi-pondasi rumahnya dan menjatuhkan tepat di atas mereka.
Lalu, syaitan datang kepada Ayyub a.s. dalam rupa seorang laki-laki dan berkata, “Wahai Ayyub, tidaklah engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia mengumpulkan anak-anakmu di rumah mereka yang paling besar. Lalu ketika mereka sedang makan dan minum, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, hingga mencabut pondasi-pondasi rumah mereka dan menjatuhkan tepat di atas mereka. Andai saja engkau melihat ketika daging mereka bercampur dengan makanan mereka, dan darah mereka bercampur dengan minuman mereka.”
Ayyub a.s. berkata : “Kamu adalah syaitan”
Lalu dia berkata : “Aku hari ini sama seperti ketika aku dilahirkan oleh ibuku.”
Lalu Ayyub a.s. berdiri, mencukur rambutnya, kemudian shalat. Iblis meneriakkan suara yang dapat didengar oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Lalu dia naik ke langit dan berkata, “Tuhan sesungguhnya dia telah bersabar. Maka berikanlah kepadaku kekuasaan atasnya, karena aku tidak dapat menguasainya kecuali dengan kekuasaanmu.”
Allah SWT berkata, “Aku telah memberikan kepadamu kekuasaan atas jasadnya. Tetapi aku tidak memberikan kepadamu kekuasaan atas hatinya.”
Lalu iblis turun dan meniupkan di bawah kaki Ayyub a.s. sebuah tiupan yang menimbulkan luka (Borok) di antara kedua kaki dan ubun-ubunnya, hingga semuanya menyatu menjadi satu luka.
Istri Ayyub a.s. berusaha merawatnya, hingga dia berkata, “Wahai Ayyub a.s. lihatlah, sungguh Allah SWT telah menurunkan kepadaku kesusahan dan kemiskinan, sampai-sampai aku harus menjual jambul rambutku dengan roti untuk memberimu makan. Maka mintalah kepada Tuhanmu agar menyembuhkanmu dan membebaskanmu.”
Ayyub a.s. berkata, “Celakalah kamu. Kita telah hidup dalam kenikmatan selama tujuh puluh tahun. Maka bersabarlah hingga kita berada dalam kesusahan selama tujuh puluh tahun.”
Ayyub a.s. berada dalam kesusahan selama tujuh puluh tahun. Lalu dia berdoa, hingga pada suatu hari Jibril datang dan memegang tangannya. Lalu berkata “Bangkitlah.”
Ayyub a.s. pun berdiri. Lalu Jibril membawanya pergi dari tempatnya dan berkata.Hantamkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”
Lalu Ayyub a.s. menghantamkan kakinya, hingga memancarlah sebuah mata air. Jibril berkata “Mandilah”
Maka Ayyub a.s. pun mandi dengannya. Setelah itu, Jibril kembali datang dan berkata “Hantamkanlah kakimu.”
Maka memancarlah mata air lain. Jibril berkata kepadanya, “Minumlah darinya.”
Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT, "Hantamkanlah kakimu. inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." Allah SWT memakaikan Ayyub a.s., sebuah pakaian dari surga.
Lalu Ayyub a.s. pergi dan duduk di suatu tempat. Ketika istrinya datang, dia tidak dapat mengenalinya. Istri Ayyub a.s. berkata, “Wahai hamba Allah, di manakah seorang sakit yang tadi berada di sini? Duhai, jangan-jangan anjing telah membawanya pergi, atau mungkin serigala.”
Dia terus berbicara seorang diri selama beberapa saat, hingga Ayyub a.s. berkata, “Celakalah kamu! Akulah Ayyub a.s.. Allah SWT telah mengembalikan tubuhku yang semula kepadaku.”
Lalu Allah SWT mengembalikan kepadanya harta dan anak-anaknya yang telah mati, dan melipatgandakan jumlah mereka.
Al-Alusi berkata, Dalam az-Zuhd, Ahmad meriwayatkan dari Abdurrahman ibn Jubair r.a., dia berkata, Ayyub a.s. ditimpa musibah pada harta, anak-anak, dan tubuhnya. Lalu, dia dilemparkan di tempat sampah. Setiap hari istrinya keluar dan mencari nafkah untuk memberinya makan, hingga syaitan dengki terhadapnya. Maka syaitan mendatangi orang-orang kaya dan dermawan seraya berkata, “Usirlah perempuan yang selalu mendatangi kalian ini. Sesungguhnya dia mengurusi suaminya dan menyentuh tangannya. Karenanya, orang-orang merasa jijik terhadap makanan kalian.”
Setelah itu, mereka menjauhkan istri Ayyub a.s. dari mereka. Mereka berkata, “Menjauhlah, sedang kami memberimu makan, dan janganlah kamu mendekati kami.”
Ibnu Jarir dan Ibnu hatim banyak menyebutkan riwayat-riwayat ini dalam tafsir keduanya. Di antaranya ada yang mauquf, dan sebagian yang lain marfu’ kepada Nabi Muhammad Saw.
Ibnu Jarir, al-Baghawi, dan yang lainnya juga banyak menyebutkan Israiliyyat saat menafsirkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya (21) : 83-84
83. dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang".
84. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
Keduanya. Meriwayatkan kisah Ayyub a.s. dan musibahnya, dari Wahb ibn Munabbih dalam berlembar-lembar kertas. Dan di dalamnya tercampur antara yang haq dan yang bathil, antara yang benar dan yang dusta.
Saat menafsirkan ayat ini, Ibn Katsir berkata dalam tafsirnya, “Telah diriwayatkan dari Wahb ibn Munabbih, kisah yang panjang tentang Ayyub a.s. Ibn Jarir dan Ibn Hatim menyebutkannya dengan sanad dari Wahb ibn Munabbih. Dan di dalamnya terdapat keanehan. Kita tidak menyebutkannya karena sangat panjang.” Sesuai dengan penelitian Ibn Katsir, Wahb bin Munabbih (Wafat 110 H) dia seorang ahli tafsir dari Yaman yang berasal dari agama Yahudi. Ia termasuk orang yang banyak meriwayatkan kisah Israiliyyat. Yaqut al-Hamawi juga berkata, “Wahb adalah orang yang banyak meriwayatkan kisah Israiliyyat yang diambilnya dari kitab-kitab terdahulu.” Bahkan Muhammad Husain adz-Dzahabi telah berkata, “Wahb bin Munabbih telah banyak meriwayatkan kisah Israiliyyat Dan banyak pula kisah Israiliyyat yang disandarkan kepadanya. Kisah-kisah tersebut ada yag bernilai dan ada yang tidak, ada yang sahih dan ada yang cacat, yang semuanya itu dijadikan sumber untuk mencela dan mencaci, sehingga ia dituduh pendusta, penipu, perusak pemikiran umat-umat Islam.”[2]
Semua ini adalah bukti yang paling benar bahwa kebanyakan dari apa yang diriwayatkan tentang kisah Ayyub a.s. diambil dari ahli kitab yang masuk Islam. Lalu datanglah para pendongeng dan orang-orang yang menyukai hal-hal yang aneh. Mereka memasukkan tambahan-tambahan ke dalam kisah Ayyub a.s. dan menyebarkannya, hingga para pengemis dan peminta-minta menjadikannya sebagai alat untuk melembutkan hati manusia dan mencari simpati mereka.[3]
Kemudian mengenai masa penderitaan yang dialami Nabi Ayyub a.s ternyata bersimpang siur riwayatnya. Ada riwayat yang mengatakan masa penderitaannya selama delapan belas tahun sesuai yang ditulis oleh Syekh Nawawi. Al-Qatadah meriwayatkan bahwa lama masa sakitnya itu selama tujuh tahun beberapa bulan, sedangkan menurut Wahb ibn Munabbih dalam riwayat yang lain hanya selama tiga tahun saja, tidak kurang dan tidak lebih.
Dengan adanya riwayat yang simpang siur semacam itu, jelas dapat memudarkan kepercayaan atas kebenaran kisah tersebut.[4]

C.    Kebenaran Dalam Kisah Ayyub a.s.
Kitab Allah SWT yang benar (Al-Qur’an) telah memberitahukan melalui lisan Nabi-Nya yang benar, Nabi Muhammad Saw. Bahwa Allah SWT menimpakan ujian pada tubuh, keluarga, dan harta nabi-Nya, Ayyub a.s. Dan bahwa dia tetap bersabar hingga dijadikan perumpamaan dalam hal ini. Allah SWT telah memujinya dengan pujian yang tinggi, Allah SWT berfirman dalam QS. Sad (38) : 44 “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).
Dengan demikian, ujian yang ditimpakan kepada Ayyub a.s. adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi. Seorang muslim wajib berpegang pada kitab Allah SWT dan tidak memasukkan tambah-tambahan dalam kisah ini, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli kitab. Mereka meletakkan kepada nabi-nabi Allah sesuatu yang tidak sesuai dengan kesucian mereka. Hal seperti ini tidak mengherankan jika dilakukan oleh Bani Israil, karena mereka tidak hanya berani bersikap lancang terhadap para nabi dan rasul saja tetapi juga berani bersikap lancang terhadap Allah SWT. Mereka telah mencaci Allah SWT, menjelek-jelekan-Nya, dan menisbatkan kepada-Nya, apa-apaa yang mustahil bagi Allah SWT berdasarkan dalil aqli dan naqli yang mutawattir, seperti perkataan mereka, “Sesungguhnya Allah SWT miskin dan kami kaya.” (QS. Ali-Imran (3) : 181. dan perkataan mereka “Tangan Allah SWT terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu, dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” QS. Al-Maidah (5) : 64. Semoga Allah SWT melaknat mereka.
Adapun yang harus kita yakini adalah bahwa Ayyub a.s. telah ditimpa ujian. Hanya saja, ujiannya tidak sampai pada batas yang disebutkan oleh kebohongan-kebohongan ini, yaitu bahwa dia ditimpa penyakit kusta, pada seluruh tubuhnya terdapat luka (borok), dan dia dilemparkan ke tempat sampah Bani Israil, hingga tubuhnya di gerogoti ulat dan binatang-binatang peliharaan Bani Israil mempermainkannya. Atau ada yang mengatakan dia diuji dengan penyakit cacar.
Ayyub a.s. terlalu mulia bagi Allah SWT untuk dilemparkan ke tempat sampah dan ditimpa penyakit yang membuat manusia lari dari seruannya, serta merasa jijik terhadapnya. Manfaat apa yang didapatkan dari risalah, sedang dia dalam keadaan yang hina dan tidak diridhai oleh Allah SWT bagi para nabi dan rasulnya ini?
Dan yang benar adalah bahwa sulaman kisah ini rapuh, tidak mampu bertahan dihadapan kritik dan tidak diperkuat oleh akal sehat atau hadits sahih. Adapun penyakit yang menimpa Ayyub a.s. adalah jenis penyakit yang tidak menjadikan orang-orang lari darinya, dan merasa jijik terhadapnya. Penyakit tersebut tidak meninggalkan bekas pada kulit, seperti rematik, penyakit persendian dan tulang, dan sebagainya.
Dan yang menguatkan hal ini adalah bahwa Allah SWT memerintahkan Ayyub a.s. untuk menghantamkan kakinya ke bumi, hingga memancarlah mata air yang panas. Lalu dia mandi dengannya. Dan Ayyub a.s. menghantamkan kakinya kedua kalinya, hingga memancarlah air yang dingin. Lalu dia minum darinya. Wallahua’lam bisshawab.
Sedangkan zahir ayat Al-Qur’an ini menyatakan bahwa tidak adanya pengulangan dalam penghantaman, tidak pula dalam pancaran mata air.
Jika tidak ada yang sahih, baik dari Al-Qur’an maupun hadits, kecuali apa yang kita sebutkan di atas, maka siapakah yang menyampaikan kisah Ayyub a.s ini kepada pendengarnya? Atau melalui siapakah dia mendengarnya? Dan israiliyyat ditolak sama sekali menurut para ulama. Maka palingkanlah pandanganmu darinya, dan tuliskanlah pandanganmu darinya, dan tulikanlah telingamu dari mendengarnya, karena semua itu tidak memberikan manfaat kepada pikiranmu kecuali khayalan, dan tidak menambah hatimu, kecuali kebinasaan.
Rasulullah Saw bersabda,
لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الكِتَابِ وَ لاَ تُكَذِّبُوْهُمْ. قُوْلُوْا : آمَنَّا وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ
“Janganlah kamu menganggap benar ahli kitab. Jangan pula menganggap mereka dusta. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah SWT dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kamu’.”
Dalam as-Sahih dengan lafazh Bukhari, disebutkan bahwa Ibn Abbas berkata, “Bagaimana bisa kalian bertanya kepada Ahli kitab tentang sesuatu, sedang kitab yang diturunkan kepada nabi kalian adalah berita terbaru tentang Allah SWT. Kalian membacanya dalam keadaan murni, belum tercampuri dan belum diselewengkan. Kitab itu telah memberitahukan kepada kalian bahwa Ahli Kitab telah mengganti dan merubah kitab Allah SWT. Mereka menulis kitab dengan tangan mereka, dan mereka mengatakan bahwa kitab tersebut berasal dari sisi Allah SWT, agar mereka dapat menjualnya dengan harga yang murah. Tidakkah ilmu yang telah datang kepada kalian dapat menghalangi kalian dari bertanya kepada mereka? Demi Allah, kita tidak melihat seorang pun di antara mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.
Imam al Alusi berkata, “Besarnya yang menimpa Nabi Ayyub a.s. adalah sesuatu yang tersebar, tersiar, dan tidak diperselisihkan. Tapi bahwa dia sampai dilemparkan ke tempat sampah dan semacamnya adalah sesuatu yang diperselisihkan.[5]
Mengenai firman Allah SWT dalam QS. Sad (38) : 44. “dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya). Kasus ini terjadi karena karena Ayyub a.s pernah marah kepada istrinya karena dosa yang telah dia kerjakan dan dia bersumpah akan mencambuknya seratus kali. Ketika Allah SWT menyembuhkannya, sedang istrinya sangat rela melayaninya dengan pelayanan yang sempurna, menyayanginya, mengasihinya, dan berbuat baik kepadanya, maka Ayyub a.s merasa tidak pantas untuk membalas semua kebaikannya itu dengan pukulan. Maka Allah SWT memberikan fatwa kepadanya agar dia mengambil seikat rumput yang berjumlah seratus, kemudian dipukulkan kepada istrinya satu kali. Dengan cara itu dia telah melakukan sumpahnya dan dia terbebas dari sumpahnya serta telah menyempurnakan nazarnya. Ini pun termasuk kelapangan dan jalan keluar bagi orang yang bertakwa serta bertobat kepadanya.[6]

D.    Hikmah dari Kisah Nabi Ayyub a.s.
1.      Nabi Ayyub a.s. adalah hamba yang amat sabar dan takwa kepada Allah SWT.
2.      Nabi Ayyub a.s. tidak pernah mengeluh kepada Allah SWT mengenai penyakitnya.
3.      Nabi Ayyub a.s. mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh sombong dengan harta kekayaan yang kita miliki, karena sebenarnya kekayaan itu adalah ujian dari Allah SWT.
4.      Penyakit tidak menghalangi kita untuk tetap beribadah kepada Allah SWT.
5.      Musibah yang menimpa kita masih sangat sedikit dari nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.
6.      Nazar itu wajib dipenuhi.

BAB III
PENUTUP

1.      Nabi Ayyub a.s adalah Nabi yang diuji oleh Allah SWT dengan kehilangan harta, keluarga, serta penyakit yang menimpa tubuhnya.
2.      Masa penderitaan yang dialami Nabi Ayyub a.s ada riwayat yang mengatakan masa penderitaannya selama 18 tahun sesuai yang ditulis oleh Syekh Nawawi. Al-Qatadah meriwayatkan bahwa lama masa sakitnya itu selama 7 tahun beberapa bulan, sedangkan menurut Wahb ibn Munabbih dalam riwayat yang lain hanya selama 3 tahun saja, tidak kurang dan tidak lebih.
3.      Hikmah yang dapat kita ambil dari Kisah Nabi Ayyub a.s. adalah Nabi Ayyub a.s. adalah hamba yang amat sabar dan takwa kepada Allah SWT, tidak pernah mengeluh kepada Allah SWT mengenai penyakitnya, ia juga mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh sombong dengan harta kekayaan yang kita miliki, karena sebenarnya kekayaan itu adalah ujian dari Allah SWT, ia juga mengajarkan kepada kita bahwa penyakit tidak menghalangi kita untuk tetap beribadah kepada Allah SWT, serta musibah yang menimpa kita masih sangat sedikit dari nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.



DAFTAR PUSTAKA

Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta :       Gema Insani Press. 2000.
Badruzzaman, Ahmad Dimyati. Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsir Munir. Bandung : Sinar        Baru Algensindo. 2010.
Muhajir. Sejarah 25 Nabi dan Rasul. Jakarta : S.A. Alaydrus. 1988.
Muhyan, Mujahidin. Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu Tafsir Al-Quran. Depok : Keira     Publishing,. 2014.




[1]         Muhajir, Sejarah 25 Nabi dan Rasul, (Jakarta : S.A. Alaydrus, 1988), hlm. 67
[2]         Ahmad Dimyati Badruzzaman, Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsir Munir, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2010), hlm. 75-76
[3]    Mujahidin Muhyan, Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu Tafsir Al-Quran, (Depok : Keira Publishing, 2014), hlm. 388-395
[4]        Ahmad Dimyati Badruzzaman, Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsir Munir, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2010), hlm. 80-81
[5]    Mujahidin Muhyan, Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu Tafsir Al-Quran, (Depok : Keira Publishing, 2014), hlm. 396-398
[6]        Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta : Gema Insani Press, 2000), hlm 79

2 komentar:

  1. Mohon maaf nama Bapaknya Nabi Ayub a.s adalah Nabi Ishak bin Ibrahih a.s

    BalasHapus
  2. Mohon maaf Nama Bqpakny Nabi Ayub a.s adalah Nabi Ishak bin Ibrahim a.s

    BalasHapus

Cabang-cabang Ilmu Hadits

BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG Banyak istilah untuk menyebut nama-nama hadits sesuai dengan fungsinya dalam menetapkan sya...