BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Nabi Ayyub a.s. adalah seorang nabi yang
sangat sabar, bahkan yang paling penting diteladani dari kisah Nabi Ayyub a.s.
adalah kesabaran dan ketakwaannya. Banyak ujian yang datang kepadanya
bertubi-tubi, tetapi tidak menggoyahkan keimanannya kepada Allah SWT. Akan
tetapi menambah rasa kecintaannya kepada Allah SWT.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kisah Nabi Ayyub a.s. dalam Al-Qur’an?
2. Apa hikmah yang dapat di ambil dari kisah Nabi Ayyub a.s.?
C.
TUJUAN MAKALAH
1. Untuk mengetahui kisah Nabi Ayyub a.s. dalam Al-Qur’an.
2. Untuk mengetahui hikmah yang dapat di ambil dari kisah Nabi Ayyub a.s.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Nabi Ayyub a.s.
Nabi
Ayyub a.s. adalah anak dari Nabi
Ibrahim a.s. Beliau adalah seorang Nabi dan
Rasul Allah SWT. Menurut Ibnu Ishaq, Ayyub merupakan salah seorang dari bangsa
Romawi. Beliau adalah Ayyub ibn Maush ibn Razih ibn Aish ibn Ishaq ibn Ibrahim
al-Khalil. Ada pula yang berpendapat bahwa beliau adalah Ayyub ibn Maush ibn
Ra’wail ibn Aish ibn Ishaq ibn Ibrahim. Pendapat lainnya menyatakan bahwa garis
nasabnya tidak seperti itu. Ibnu Asakir menceritakan bahwa ibu Ayyub adalah putri Nabi Luth a.s. Ada
pula yang berpendapat bahwa ayahnya adalah seorang yang beriman kepada Nabi
Ibrahim.
Nabi
Ayyub a.s. adalah seorang Nabi yang kaya raya, mempunyai banyak binatang ternak
seperti sapi, kambing, kuda, keledai dan unta. Beliau mempunyai banyak anak,
laki-laki dan perempuan. Nabi Ayyub a.s. adalah seorang yang selalu berbuat
baik kepada kaum fakir-miskin, yatim-piatu, dan setiap orang yang membutuhkan
bantuan. Beliau juga amat memuliakan tamunya. Kekayaan dan keturunan yang
banyak itu tidak membuatnya sombong, tetapi justru menambah ketakwaannya kepada
Allah SWT.[1]
Adapun
pendapat yang lebih populer adalah Nabi Ayyub a.s. termasuk
anak keturunan Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa’ (4) :
163
163. Sesungguhnya Kami telah
memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh
dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada
Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan
Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
Ada yang berpendapat bahwa istri Ayyub bernama Rahmah binti Afratsim.
Ada pula yang berpendapat bahwa istrinya bernama Liya binti Yusuf binti Ya’qub.
Pendapat inilah yang paling populer dan karena itulah kami mengemukakannya
disini.
B.
Israiliyyat kisah Ayyub a.s.
Termasuk dari kisah yang ditambah-tambahi oleh orang-orang yang
suka menambah-nambahi, dimanfaatkan oleh para pendongeng, dan di dalamnya
mereka melepaskan pengikat khayalan mereka adalah kisah Nabi Ayyub a.s. Tentang
kisah ini, mereka meriwayatkan hal-hal buruk yang Allah SWT menjaga para
Nabi-Nya dari hal-hal tersebut, dan menggambarkan Daud dengan gambaran yang
tidak diridhoi oleh Allah SWT bagi seorang pun di antara Rasul-rasul-Nya. Sebagian
mufassir menyebutkan berbagai riwayat saat menafsirkan firman Allah SWT dalam
QS. Sad (38) : 41-44
41. dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub
ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan
dan siksaan".
42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu, Inilah air yang sejuk
untuk mandi dan untuk minum".
43. dan Kami anugerahi Dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan
(kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami
dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.
44. dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan
itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub)
seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat
(kepada Tuhan-nya).
As-Suyuti dalam Ad-Dur al-Mantsur dan yang lainnya
meriwayatkan dari Qatadah r.a., tentang firman Allah SWT. “Dan ingatlah akan
hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu
syaitan dengan kepayahan dan siksaan". Qatadah berkata, “Yaitu
kehilangan keluarga dan harta, serta penyakit yang menimpa tubuhnya. Dia
ditimpa musibah selama tujuh tahun beberapa bulan. Dia dilemparkan ke tempat
sampah Bani Israil, dan bermacam-macam binatang berkeliaran di atas tubuhnya.
Lalau Allah SWT membebaskan Ayyub a.s. dari musibah
tersebut, dan memberinya pahala yang lebih agung dan lebih baik.”
As-Suyuti berkata : Ahmad - dalam az zuhd - Ibn Abu Hatim,
dan Ibn Asakir meriwayatkan dari Ibn Abbas r.a., dia berkata, Syaitan naik ke langit
dan berkata, “Wahai Tuhan berikanlah kepadaku kekuasaan atas Ayyub a.s.”
Allah SWT berkata, “Aku telah memberikan kepadamu kekuasaan atas
harta dan anak-anaknya. Tapi aku tidak memberikan kekuasaan atas tubuhnya
kepadamu.”
Maka syaitan turun dan mengumpulkan bala tentaranya seraya berkata,
“Aku telah diberi kekuasaan atas Ayyub a.s., maka perlihatkan kekuatan kalian
kepadaku!”
Lalu syaitan mengirimkan sekelompok tentaranya ke perkebunan Ayyub
a.s., sekelompok yang lain ke keluarganya dan sekelompok yang lain ke
peternakan sapinya, dan sekelompok yang lainnya ke peternakan dombanya. Dia berkata,
“Sesungguhnya dia tidak berlindung dari kalian kecuali dengan yang perbuatan ma’ruf.”
Maka mereka mendatangkan musibah yang berturut-turut kepada Ayyub
a.s., hingga penjaga kebun datang dan berkata, “Wahai Ayyub a.s. tidakkah
engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia mengirimkan musuh ke perkebunanmu dan
melenyapkannya.”
Kemudian penjaga ternak unta datang dan berkata, “Wahai Ayyub a.s. tidakkah engkau melihat
kepada Tuhanmu? Dia mengirimkan musuh ke peternakan untamu dan melenyapkannya.”
Kemudian penjaga ternak sapi datang dan berkata, “Wahai Ayyub a.s.
tidakkah engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia mengirimkan musuh ke peternakan
sapimu dan melenyapkannya.”
Lalu Ayyub a.s. menyendiri bersama anak-anaknya. Mereka berkumpul
di rumah yang paling besar. Ketika mereka sedang makan dan minum, tiba-tiba
angin bertiup sangat kencang, hingga mencabut pondasi-pondasi rumahnya dan
menjatuhkan tepat di atas mereka.
Lalu, syaitan datang kepada Ayyub a.s. dalam rupa seorang laki-laki
dan berkata, “Wahai Ayyub, tidaklah engkau melihat kepada Tuhanmu? Dia
mengumpulkan anak-anakmu di rumah mereka yang paling besar. Lalu ketika mereka
sedang makan dan minum, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, hingga mencabut
pondasi-pondasi rumah mereka dan menjatuhkan tepat di atas mereka. Andai saja
engkau melihat ketika daging mereka bercampur dengan makanan mereka, dan darah
mereka bercampur dengan minuman mereka.”
Ayyub a.s. berkata : “Kamu adalah syaitan”
Lalu dia berkata : “Aku hari ini sama seperti ketika aku dilahirkan
oleh ibuku.”
Lalu Ayyub a.s. berdiri,
mencukur rambutnya, kemudian shalat. Iblis meneriakkan suara yang dapat
didengar oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Lalu dia naik ke langit dan
berkata, “Tuhan sesungguhnya dia telah bersabar. Maka berikanlah kepadaku
kekuasaan atasnya, karena aku tidak dapat menguasainya kecuali dengan
kekuasaanmu.”
Allah SWT berkata, “Aku telah memberikan kepadamu kekuasaan atas
jasadnya. Tetapi aku tidak memberikan kepadamu kekuasaan atas hatinya.”
Lalu iblis turun dan meniupkan di bawah kaki Ayyub a.s. sebuah
tiupan yang menimbulkan luka (Borok) di antara kedua kaki dan ubun-ubunnya,
hingga semuanya menyatu menjadi satu luka.
Istri Ayyub a.s. berusaha merawatnya, hingga dia berkata, “Wahai Ayyub
a.s. lihatlah, sungguh Allah SWT telah menurunkan kepadaku kesusahan dan
kemiskinan, sampai-sampai aku harus menjual jambul rambutku dengan roti untuk
memberimu makan. Maka mintalah kepada Tuhanmu agar menyembuhkanmu dan
membebaskanmu.”
Ayyub a.s. berkata, “Celakalah kamu. Kita telah hidup dalam
kenikmatan selama tujuh puluh tahun. Maka bersabarlah hingga kita berada dalam
kesusahan selama tujuh puluh tahun.”
Ayyub a.s. berada dalam kesusahan selama tujuh
puluh tahun. Lalu dia berdoa, hingga pada suatu hari Jibril datang dan memegang tangannya. Lalu berkata “Bangkitlah.”
Ayyub a.s. pun berdiri. Lalu Jibril membawanya pergi dari tempatnya
dan berkata. “Hantamkanlah kakimu. Inilah air yang
sejuk untuk mandi dan untuk minum.”
Lalu Ayyub a.s. menghantamkan kakinya, hingga memancarlah sebuah
mata air. Jibril berkata “Mandilah”
Maka Ayyub a.s. pun mandi dengannya. Setelah itu, Jibril kembali
datang dan berkata “Hantamkanlah kakimu.”
Maka memancarlah mata air lain. Jibril berkata kepadanya, “Minumlah
darinya.”
Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT, "Hantamkanlah
kakimu. inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." Allah SWT
memakaikan Ayyub a.s., sebuah pakaian dari surga.
Lalu Ayyub a.s. pergi dan
duduk di suatu tempat. Ketika istrinya datang, dia tidak dapat mengenalinya.
Istri Ayyub a.s. berkata, “Wahai hamba Allah, di manakah seorang sakit yang
tadi berada di sini? Duhai, jangan-jangan anjing telah membawanya pergi, atau
mungkin serigala.”
Dia terus berbicara seorang diri selama beberapa saat, hingga Ayyub
a.s. berkata, “Celakalah kamu! Akulah Ayyub a.s.. Allah SWT telah mengembalikan
tubuhku yang semula kepadaku.”
Lalu Allah SWT mengembalikan kepadanya harta dan anak-anaknya yang
telah mati, dan melipatgandakan jumlah mereka.
Al-Alusi berkata, Dalam az-Zuhd, Ahmad meriwayatkan dari
Abdurrahman ibn Jubair r.a., dia berkata, Ayyub a.s. ditimpa musibah pada
harta, anak-anak, dan tubuhnya. Lalu, dia dilemparkan di tempat sampah. Setiap
hari istrinya keluar dan mencari nafkah untuk memberinya makan, hingga syaitan
dengki terhadapnya. Maka syaitan mendatangi
orang-orang kaya dan dermawan seraya berkata, “Usirlah perempuan yang selalu
mendatangi kalian ini. Sesungguhnya dia mengurusi suaminya dan menyentuh
tangannya. Karenanya, orang-orang merasa jijik terhadap makanan kalian.”
Setelah itu, mereka menjauhkan istri Ayyub a.s. dari mereka. Mereka
berkata, “Menjauhlah, sedang kami memberimu makan, dan janganlah kamu mendekati
kami.”
Ibnu Jarir dan Ibnu hatim banyak menyebutkan riwayat-riwayat ini
dalam tafsir keduanya. Di antaranya ada yang mauquf, dan sebagian yang
lain marfu’ kepada Nabi Muhammad Saw.
Ibnu Jarir, al-Baghawi, dan yang lainnya juga banyak menyebutkan Israiliyyat
saat menafsirkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya (21) :
83-84
83. dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku),
Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha
Penyayang di antara semua Penyayang".
84. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan
penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami
lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk
menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
Keduanya. Meriwayatkan kisah Ayyub a.s. dan musibahnya, dari Wahb
ibn Munabbih dalam berlembar-lembar kertas. Dan di dalamnya tercampur antara
yang haq dan yang bathil, antara yang benar dan yang dusta.
Saat menafsirkan ayat ini, Ibn Katsir berkata dalam tafsirnya,
“Telah diriwayatkan dari Wahb ibn Munabbih, kisah yang panjang tentang Ayyub
a.s. Ibn Jarir dan Ibn Hatim menyebutkannya dengan sanad dari Wahb ibn
Munabbih. Dan di dalamnya terdapat keanehan. Kita tidak menyebutkannya karena
sangat panjang.” Sesuai dengan penelitian Ibn Katsir, Wahb
bin Munabbih (Wafat 110 H) dia seorang
ahli tafsir dari Yaman yang berasal dari agama Yahudi. Ia termasuk orang yang
banyak meriwayatkan kisah Israiliyyat. Yaqut al-Hamawi juga berkata, “Wahb
adalah orang yang banyak meriwayatkan kisah Israiliyyat yang diambilnya dari
kitab-kitab terdahulu.” Bahkan Muhammad Husain adz-Dzahabi telah berkata, “Wahb
bin Munabbih telah banyak meriwayatkan kisah Israiliyyat Dan banyak pula kisah
Israiliyyat yang disandarkan kepadanya. Kisah-kisah tersebut ada yag bernilai
dan ada yang tidak, ada yang sahih dan ada yang cacat, yang semuanya itu
dijadikan sumber untuk mencela dan mencaci, sehingga ia dituduh pendusta,
penipu, perusak pemikiran umat-umat Islam.”[2]
Semua ini adalah bukti yang paling benar bahwa kebanyakan dari apa
yang diriwayatkan tentang kisah Ayyub a.s. diambil dari ahli kitab yang masuk
Islam. Lalu datanglah para pendongeng dan orang-orang yang menyukai hal-hal
yang aneh. Mereka memasukkan tambahan-tambahan ke dalam kisah Ayyub a.s. dan
menyebarkannya, hingga para pengemis dan peminta-minta menjadikannya sebagai
alat untuk melembutkan hati manusia dan mencari simpati mereka.[3]
Kemudian
mengenai masa penderitaan yang dialami Nabi Ayyub a.s ternyata bersimpang siur
riwayatnya. Ada riwayat yang mengatakan masa penderitaannya selama delapan
belas tahun sesuai yang ditulis oleh Syekh Nawawi. Al-Qatadah meriwayatkan
bahwa lama masa sakitnya itu selama tujuh tahun beberapa bulan, sedangkan
menurut Wahb ibn Munabbih dalam riwayat yang lain hanya selama tiga tahun saja,
tidak kurang dan tidak lebih.
Dengan
adanya riwayat yang simpang siur semacam itu, jelas dapat memudarkan
kepercayaan atas kebenaran kisah tersebut.[4]
C.
Kebenaran Dalam Kisah Ayyub a.s.
Kitab Allah SWT yang benar (Al-Qur’an) telah memberitahukan melalui
lisan Nabi-Nya yang benar, Nabi Muhammad Saw. Bahwa Allah SWT menimpakan ujian
pada tubuh, keluarga, dan harta nabi-Nya, Ayyub a.s. Dan bahwa dia tetap
bersabar hingga dijadikan perumpamaan dalam hal ini. Allah SWT telah memujinya
dengan pujian yang tinggi, Allah SWT berfirman dalam QS. Sad (38) : 44 “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah
sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).”
Dengan demikian, ujian yang ditimpakan kepada Ayyub a.s. adalah
sesuatu yang tidak diragukan lagi. Seorang muslim wajib berpegang pada kitab
Allah SWT dan tidak memasukkan tambah-tambahan dalam kisah ini, sebagaimana
yang dilakukan oleh ahli kitab. Mereka meletakkan kepada nabi-nabi Allah sesuatu
yang tidak sesuai dengan kesucian mereka. Hal seperti ini tidak mengherankan
jika dilakukan oleh Bani Israil, karena mereka tidak hanya berani bersikap
lancang terhadap para nabi dan rasul saja tetapi juga berani bersikap lancang
terhadap Allah SWT. Mereka telah mencaci Allah SWT, menjelek-jelekan-Nya, dan
menisbatkan kepada-Nya, apa-apaa yang mustahil bagi Allah SWT berdasarkan dalil
aqli dan naqli yang mutawattir, seperti perkataan mereka,
“Sesungguhnya Allah SWT miskin dan kami kaya.” (QS. Ali-Imran (3) : 181. dan
perkataan mereka “Tangan Allah SWT terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah
yang dibelenggu, dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka
katakan itu.” QS. Al-Maidah (5) : 64. Semoga Allah SWT melaknat mereka.
Adapun
yang harus kita yakini adalah bahwa Ayyub a.s. telah ditimpa ujian. Hanya saja,
ujiannya tidak sampai pada batas yang disebutkan oleh kebohongan-kebohongan
ini, yaitu bahwa dia ditimpa penyakit kusta, pada seluruh tubuhnya terdapat luka
(borok), dan dia dilemparkan ke tempat sampah Bani Israil, hingga tubuhnya di
gerogoti ulat dan binatang-binatang peliharaan Bani Israil mempermainkannya.
Atau ada yang mengatakan dia diuji dengan penyakit cacar.
Ayyub a.s. terlalu
mulia bagi Allah SWT untuk dilemparkan ke tempat sampah dan ditimpa penyakit
yang membuat manusia lari dari seruannya, serta merasa jijik terhadapnya.
Manfaat apa yang didapatkan dari risalah, sedang dia dalam keadaan yang hina
dan tidak diridhai oleh Allah SWT bagi para nabi dan rasulnya ini?
Dan
yang benar adalah bahwa sulaman kisah ini rapuh, tidak mampu bertahan dihadapan
kritik dan tidak diperkuat oleh akal sehat atau hadits sahih. Adapun penyakit
yang menimpa Ayyub a.s.
adalah jenis penyakit yang tidak menjadikan orang-orang lari darinya, dan
merasa jijik terhadapnya. Penyakit tersebut tidak meninggalkan bekas pada
kulit, seperti rematik, penyakit persendian dan tulang, dan sebagainya.
Dan
yang menguatkan hal ini adalah bahwa Allah SWT memerintahkan Ayyub a.s. untuk menghantamkan
kakinya ke bumi, hingga memancarlah mata air yang panas. Lalu dia mandi
dengannya. Dan Ayyub a.s. menghantamkan
kakinya kedua kalinya, hingga memancarlah air yang dingin. Lalu dia minum
darinya. Wallahua’lam bisshawab.
Sedangkan
zahir ayat Al-Qur’an ini menyatakan bahwa tidak adanya pengulangan dalam
penghantaman, tidak pula dalam pancaran mata air.
Jika tidak ada yang sahih, baik dari Al-Qur’an maupun hadits,
kecuali apa yang kita sebutkan di atas, maka siapakah yang menyampaikan kisah
Ayyub a.s ini kepada pendengarnya? Atau melalui siapakah dia mendengarnya? Dan
israiliyyat ditolak sama sekali menurut para ulama. Maka palingkanlah pandanganmu
darinya, dan tuliskanlah pandanganmu darinya, dan tulikanlah telingamu dari
mendengarnya, karena semua itu tidak memberikan manfaat kepada pikiranmu
kecuali khayalan, dan tidak menambah hatimu, kecuali kebinasaan.
Rasulullah
Saw bersabda,
لاَ تُصَدِّقُوْا
أَهْلَ الكِتَابِ وَ لاَ تُكَذِّبُوْهُمْ. قُوْلُوْا : آمَنَّا وَ مَا أُنْزِلَ
إِلَيْنَا وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ
“Janganlah
kamu menganggap benar ahli kitab. Jangan pula menganggap mereka dusta.
Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah SWT dan apa yang diturunkan kepada kami
dan apa yang diturunkan kepada kamu’.”
Dalam as-Sahih dengan lafazh Bukhari, disebutkan bahwa Ibn
Abbas berkata, “Bagaimana bisa kalian bertanya kepada Ahli kitab tentang
sesuatu, sedang kitab yang diturunkan kepada nabi kalian adalah berita terbaru
tentang Allah SWT. Kalian membacanya dalam keadaan murni, belum tercampuri dan
belum diselewengkan. Kitab itu telah memberitahukan kepada kalian bahwa Ahli
Kitab telah mengganti dan merubah kitab Allah SWT.
Mereka menulis kitab dengan tangan mereka, dan mereka mengatakan bahwa kitab
tersebut berasal dari sisi Allah SWT, agar mereka
dapat menjualnya dengan harga yang murah. Tidakkah ilmu yang telah datang
kepada kalian dapat menghalangi kalian dari bertanya kepada mereka? Demi Allah,
kita tidak melihat seorang pun di antara mereka
yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.
Imam al Alusi berkata, “Besarnya yang menimpa Nabi Ayyub a.s.
adalah sesuatu yang tersebar, tersiar, dan tidak diperselisihkan. Tapi bahwa
dia sampai dilemparkan ke tempat sampah dan semacamnya adalah sesuatu yang
diperselisihkan.”[5]
Mengenai firman Allah SWT dalam
QS. Sad (38) : 44. “dan ambillah dengan tanganmu seikat
(rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.
Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya). Kasus ini terjadi karena karena Ayyub a.s pernah marah kepada istrinya
karena dosa yang telah dia kerjakan dan dia bersumpah akan mencambuknya seratus
kali. Ketika Allah SWT menyembuhkannya, sedang istrinya sangat rela melayaninya
dengan pelayanan yang sempurna, menyayanginya, mengasihinya, dan berbuat baik
kepadanya, maka Ayyub a.s merasa tidak pantas untuk membalas semua kebaikannya itu
dengan pukulan. Maka Allah SWT memberikan fatwa kepadanya agar dia mengambil
seikat rumput yang berjumlah seratus, kemudian dipukulkan kepada istrinya satu
kali. Dengan cara itu dia telah melakukan sumpahnya dan dia terbebas dari
sumpahnya serta telah menyempurnakan nazarnya. Ini pun termasuk kelapangan dan
jalan keluar bagi orang yang bertakwa serta bertobat kepadanya.[6]
D. Hikmah dari Kisah Nabi Ayyub a.s.
1. Nabi Ayyub a.s. adalah hamba yang amat sabar dan takwa kepada Allah SWT.
2. Nabi Ayyub a.s. tidak pernah mengeluh kepada Allah SWT mengenai
penyakitnya.
3. Nabi Ayyub a.s. mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh sombong
dengan harta kekayaan yang kita miliki, karena sebenarnya kekayaan itu adalah
ujian dari Allah SWT.
4. Penyakit tidak menghalangi kita untuk tetap beribadah kepada Allah SWT.
5. Musibah yang menimpa kita masih sangat sedikit dari nikmat yang telah
Allah SWT berikan kepada kita.
6. Nazar itu wajib dipenuhi.
BAB III
PENUTUP
1. Nabi Ayyub a.s adalah Nabi yang diuji oleh Allah SWT
dengan kehilangan harta, keluarga,
serta penyakit yang menimpa tubuhnya.
2. Masa penderitaan yang dialami Nabi Ayyub a.s ada riwayat yang mengatakan
masa penderitaannya selama 18 tahun sesuai yang ditulis oleh Syekh Nawawi.
Al-Qatadah meriwayatkan bahwa lama masa sakitnya itu selama 7 tahun beberapa
bulan, sedangkan menurut Wahb ibn Munabbih dalam riwayat yang lain hanya selama
3 tahun saja, tidak kurang dan tidak lebih.
3. Hikmah yang dapat kita ambil dari Kisah Nabi Ayyub a.s. adalah Nabi Ayyub a.s. adalah hamba yang amat sabar dan
takwa kepada Allah SWT, tidak pernah mengeluh kepada Allah SWT mengenai
penyakitnya, ia juga mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh sombong
dengan harta kekayaan yang kita miliki, karena sebenarnya kekayaan itu adalah
ujian dari Allah SWT, ia juga mengajarkan kepada kita bahwa penyakit tidak
menghalangi kita untuk tetap beribadah kepada Allah SWT, serta musibah yang
menimpa kita masih sangat sedikit dari nikmat yang telah Allah SWT berikan
kepada kita.
DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rifa’I,
Muhammad Nasib. Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.
Jakarta : Gema Insani Press. 2000.
Badruzzaman,
Ahmad Dimyati. Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsir Munir. Bandung :
Sinar Baru Algensindo. 2010.
Muhajir. Sejarah 25 Nabi dan Rasul. Jakarta : S.A. Alaydrus.
1988.
Muhyan, Mujahidin. Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu Tafsir Al-Qur’an. Depok
: Keira Publishing,. 2014.
[1] Muhajir,
Sejarah 25 Nabi dan Rasul, (Jakarta : S.A. Alaydrus, 1988), hlm. 67
[2] Ahmad
Dimyati Badruzzaman, Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsir Munir,
(Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2010), hlm. 75-76
[3] Mujahidin
Muhyan, Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu Tafsir Al-Quran, (Depok :
Keira Publishing, 2014), hlm. 388-395
[4] Ahmad
Dimyati Badruzzaman, Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsir Munir,
(Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2010), hlm. 80-81
[5] Mujahidin
Muhyan, Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu Tafsir Al-Quran, (Depok :
Keira Publishing, 2014), hlm. 396-398
[6] Muhammad
Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,
(Jakarta : Gema Insani Press, 2000), hlm 79
Mohon maaf nama Bapaknya Nabi Ayub a.s adalah Nabi Ishak bin Ibrahih a.s
BalasHapusMohon maaf Nama Bqpakny Nabi Ayub a.s adalah Nabi Ishak bin Ibrahim a.s
BalasHapus